2012年11月15日木曜日

"(電車)Densha-->Kereta"

Kereta yang kutumpangi, berhenti ditempat ini. Aku singgah tapi pasti kembali.
Destinasiku adalah kehidupan abadi. Disini aku hanyalah melewati hari sembari menunggu waktu kembali.
Aku, kalian adalah sama-sama menanti kapan kereta ini akan meluncur lagi.
Adakah ini persinggahan terakhir sebelum tiba di penghujung hari?
Ataukah masih ada tempat untuk berbagi hati dalam sisa-sisa hari.
Untuk menjadi bekal pertanggungjawaban di alam mati dan alam abadi.

Jalur kereta yang hanya dua ini, kanan dan kiri.
Jalur perjalanan yang melewati tempat-tempat untuk mengisi hati.
Suatu ketika aku ada dijalur kanan yg menyenangkan hati.
Tapi diwaktu lain aku meluncur dijalur kiri yang sangat menggelisahkan hati.
Silih berganti seiring hari-hari yg terlewati dan usia yang semakin terkurangi.

Akhir perjalanan ini dijalur kanan atau kiri, sangat mengkhawatirkan hati.
Dan ketika diri sudah tidak mampu berbuat apa yang seharusnya diobati.
Hanyalah doa yang tersisa agar Tuhan yang Maha Pemurah mau mengampuni
dan mengakhirkan perjalanan ini jalur kanan yang menyelamatkan Hati.

2012年11月10日土曜日

Hijrah---->

Dulu....ketika hati sudah benar-benar diambang kelumpuhan oleh rasa kepedihan yang sangat memilukan, terfikirkan olehku untuk pergi jauh, hijrah ketempat yg tak seorangpun mengenal siapa diriku melainkan seorang musafir di negeri itu. Tapi apa mau dikata, harapan hanya tinggal harapan ketika kenyataan tak kesampaian, kepedihan terus berlanjut hingga sekarang. Kini, hati sudah sangat sesak oleh kepedihan itu. Aku pun kembali ingin menghijrahkan diriku ketempat yang jauh dan tepat untuk mendekatkan diriku pada Sang Khalik Yang Maha Pencipta, ALLAH SWT. Tapi tempat yang tepat itu seperti apa? aku pun tidak tahu. Lantas kearah mana aku harus berjalan. Selama ini apakah aku melangkah ke tempat yang salah ataukah aku yang salah pada tempat yang tepat. 

Kini aku diberikan peluang untuk pindah ke tempat yang jauh, di negeri yang mayoritas penduduknya adalah kafir, negeri yang memuja kehidupan dunia, negeri yang meninggikan derajat logika, negeri yang sebenarnya tidak layak ditempati melainkan dengan tujuan dakwah. Jika ada pertimbangan yang kuat, maka alasan inilah yang ingin kujadikan sebagai landasan keinginanku berhijrah ke negeri ini. Tapi tak pernah kupungkiri jika ada alasan duniawi yang menyertainya. 

Pada satu sisi, jika aku mengaca pada apa yang telah aku alami, maka aku merasa salah jika negeri itu yang aku tuju. Tapi disisi lain aku coba meyakinkan diriku bahwasanya hal itu bisa saja tepat walau terasa berat. Bagaikan berjalan dipinggir jurang, yang satu kesalahan kecil saja bisa menjerumuskan aku kelembah kehancuran. Tapi jika aku bisa melaluinya, maka aku berhasil melewati satu langkah sukses menuju langkah berikutnya. Rasa ngotot begitu kuat dalam diriku. Entah ini hanya nafsuku saja ataukah ini benar-benar suatu keikhlasan.

Semoga ini tidak salah, karena tidak ada yang salah jika diniatkan dan dilakukan dengan cara yang sesuai kaidah keyakinan.